Sunday, September 29, 2013
Sunday, September 15, 2013
Hipotesis Bahasa
Dalam memahami sebuah bahasa seorang manusia mengalami beberapa macam cara, diantara cara-cara tersebut terkandung dalam sebuah Hipotesis. Berikut ini adalah beberapa Hipotesis penguasaan bahasa :

Berkenaan dengan proses pemerolehan bahasa, Stephen Krashen mengajukan Sembilan buah hipotesis yang saling berkaitan. Kesembilan hipotesis itu adalah :
1. Hipotesis perbedaan antara pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning)
2. Hipotesis urutan alamiah
3. Hipotesis monitor
4. Hipotesi masukan
5. Hipotesis efektif
6. Hipotesis bakat
7. Hipotesis filter
8. Hipotesis bahasa pertama
9. Hipotesis variaso individual dalam penggunaan monitor.
1. Hipotesis Pemerolehan dan belajar
Menurut hipotesis ini dalam penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan (acquisition) dan belajar (leraning). Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terencana. Proses pemerolehan tidak melalui usaha belajar yang formal atau eksplisit. Sebaliknya yang formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari, terutama yangberkenaan dengan kaidah-kaidah bahasa. Belajar terutama terjadi atau berlangsung dalam teks.
2. Hipotesis Urutan Alamiah
Hipotesis ini menyatakan bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kanak-kanak memperoleh unsure-unsur bahasa mmenurut urutan tertentu yang dapat diprediksikan. Urutan ini bersifat alamiah. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola pemerolehan unsure-unsur bahasa yang relative stabil untuk bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing.
3. Hipotesis Monitor
Hipotesis monitor ini menyatakan adanya hubungan antara proses sadar dalam pemerolehan bahasa. Proses sadar menghasilkan hasil belajar dan proses bawah sadar menghasilkan pemrolehan. Kita dapat berbicara dalam bahasa tertentu adalah karena system yang kita miliki sebagai hasil dari pemerolehan, dan bukan dari hasil belajar. Semua kaidah tata bahasa yang kita hafalkan tidak selalu membantu kelancaran dalam berbicara. Kaidah tata bahasa yang kita kuasai ini hanya berfungsi sebagai monitor saja dalam pelaksanaan (performansi) berbahasa.
4. Hipotesis masukan
Hipotesis ini menyatakan bahwa seseorang menguasai bahasa melalui masukan (input) yang dapat dipahami yaitu degan memusatkan perhatian pada pesan atau isi dan bukannya pada bnetuk. Hal ini berlaku bagi semua orang deswasa maupun kanak-kanak, yang sedang belajar bahasa. Hipotesis ini juga menyatakan bahwa kegiatan mendengarkan untuk memahami isi wacana sangat penting dalam proses pemerolehan bahasa dan penguasaan bahasa secara aktif akan dating pada waktunya nanti.
5. Hipotesis Efektuf (Sikap)
Hipotesis ini menyatakan bahwa orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan orang dengan kepribadian dan sikap yang lain. Seseorang dengan kepribadian terbuka dan hangat akan lebih berhasil dalam belajar bahasa kedua dibandingkan orang dengan kepribadian yang agak tertutup.
6. Hipotesis Pembawaan (Bakat)
Hipotesis ini menyatakan bahwa bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan belajar bahasa kedua. Krashen menyatakan bahwa sikap secara langsung berhubungan dengan pemerolehan bahasa kedua, sedangkan bakat berhubungan dengan belajar. Mereka hanya mendapat nilai tinggi dalam tes bakat bahasa, pada umumnya berhasil baik dalam tes tata bahasa. Jadi aspek ini banyak berkaitan dengan beljar, dan bukan dengan pemerolehan.
7. Hipotesis Filter Afektif
Hipotesis ini menyatakan bahwa sebuah filter yang bersifat efektif dapat menahan masukan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya untuk memperoleh bahasa kedua. Filter itu dapat berupa kepercayaan diri yang kurang, situasi yang menegangkan, sikap defensive dan sebagainya, yang dapat mengurangi kesempatan bagi masukan (input) untuk masuk kedalam system bahasa yang dimiliki seseorang. Filter efektif ini lazim juga disebut mental block.
8. Hipotesis Bahasa Pertama
Hipotesis ini menyatakan bahwa bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. Jika seseorang anak pada tahap permulaan belajar bahasa kedua dipaksa untuk menggunakan atau berbicara dalam bahasa kedua. Maka dia akan menggunakan kosa kata dan aturan tata bahasa pertamanya. Oleh katena itu sebaiknya guru tidak terlalummemaksa siswanya untuk menggunakan bahasa kedua yang sedang dipelajarinya. Berilah kesempatan pada anak untuk mendapatkan input yang bermakna dan untuk mendapatkan input yang bermakna dan untuk mengurangi filter efektifnya. Dengan demikian, penguasaan bahasa kedua dengan sendirinya akan belangsung pada waktunya.
9. Hipotesis Variasi Individual Penggunaan Monitor.
Hipotesisi ini, yang berkaitan dengan hipotesis ketiga (hipotesis monitor), menyatakan bahwa cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang dipelajarinya ternyata bervariasi. Ada yang terus-menerus menggunakannya secara sistematis, tetapi ada pula yang tidak pernah menggunakannya. Namun diantara keduanya ada pula yang menggunakan monitor itu sesuai dengan keperluan atau kesempatan untuk menggunakannya.
Hipotesis Bahasa Antara
Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa/ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua itu. Bahasa antara ini bersifat khas dan mempunyai karakterestik tersendiri yang tidak sama dengan bahasa pertama dan bahasa kedua. Tampaknya, semacam perpindahan dari bahasa pertama ke bahasa kedua.
Bahasa antara ini merupakan produk dari strategi seseorang dalam belajar bahasa kedua. Artinya, bahasa ini merupakan kumpulan atau akumulasi yang terus-menerus dari suatu proses pembentukan penguasaan bahasa.
Pad awalnya pernyataan hipotesis bahasa antara cenderung berasumsi bahwa kontinum itu berupa penstrukturan kembali, seperti yang diungkapkan oleh Nemser (1971 : 59). Akan tetapi setelah peranan Bahasa Indonesia mulai dipertanyakan pandangan ini mulai kurang menarik. Bahasa antara dipandang sebagai kontinum penmgkreasian kembali (Ellis 1986 : 54). Penelitian empiris berperan sekali dalam pergantian pandangan tersebut, seperti yang telah dilaksanakan oleh Dulay & Burt (1975).
Sejak pandangan bahasa antara mengacu kepada kontinum pengkreasian kembali, titik awal bahasa anatara menjadi persoalan utama. Jika pembelajar membangun bahasa antaranya secara berangsur-angsur dalam meningkatkan kompleksitas system bahasa yang diperolehnya, apa yang digunakan sebagai titik awalnya ? Corder (dalam Ellis 1986 : 70) mempertimbangkannya dalam dua kemungkinan,
Pertama, pembelajar sejak semula belajar seperti bayi yang memperoleh bahasa ibnya. Namun Corder mengungkapkankemungkinan ini sangat kecil sebab tidakl mungkin keseluruhan proses pemerolehan bahasa akan diulang (direplikasi).
Kedua, pebelajar memulainya dari beberapa tata bahasa dasar sederhana (some basic simple grammer). Menurutnya, pebelajar mundur ketahap yang lebih awal dalam perkembangan linguistic mereka sebelum memulai proses penyebaran atau perluasan. Menurut Ellis (1986 : 70) tidak perlu mendudiukkan pebelajar kedalam tahap pemerolehan paling awal. Menurutnya, pada awalnya adalah pemerolehan kosa kata awal ini digunakannya dalam ujarannon gramatikal. Makna yang dimaksudkan pebelajar dibantu melalui informasi yang diberikan oleh orang lain (pendengar) dan konteks situasi. Dengan kata lain, permulaannya adalah pengetahuan pebelajar tentang bagaimana memperoleh pesan tanpa bantuan tata bahasa. Proses yang sama dibuktikan dalam ujaran penutur asli yang ditujukan kepada pebelajar B2 untuk memudahkan komunikasi.
Hipotesis Pijinisasi
Hipotesis ini menyatakan bahewa dalam proses belajar bahasa kedua, bias saja selain terbentuknya bahasa antara terbentuk juga yang disebut bahasa pijin (pidgin), yakni sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin ini digunakan untuk keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki bahasa sendiri. Jadi bias dikatakan bahasa pijin ini tidak memiliki penutur asli (Chaer dan Agustina, 1995).
Monday, September 2, 2013
Cara Mendirikan PAUD
Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, kabarnya dianjurkan ada disetiap desa dengan tujuan agar anak mulai belajar sejak dini dengan dengan cara bermain. Untuk mendirikan PAUD tidaklah mudah butuh kejelian dan kerjasama antar komponen dipemerintahan desa dan warga.
Raja Jempol dalam artikel kali ini coba berbagi cara mendirikan PAUD.
Berikut ini adalah langkah-langkahnya :
1. Dekati warga sekitar, tetangga yang mempunyai anak balita, bicara sanati yang ujung-ujungnya kearah anjuran ke PAUD.
2. Hubungi aparat desa setempat dari mulai kepala desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat tentang ide PAUD.
3. Sediakan tempat yang nantinya kan digunakan untuk sarana belajar, usahakan yang nyaman sejuk dan ada fasilitas belajar dan bermain.
4. Promosikan ide PAUD dengan fasilitas yang dimiliki.
5. Bentuk kepengurusan yayasan PAUD dari mulai penyelenggara hingga para gurunya, usahakan para pengajar yang berpengalaman diutamakan rekruit guru TK yang professional.
6. Ajukan proposal pendirian PAUD dengan rincian antara lain :
a. Kop Proposal yang bertuliskan ijin proposal, nama PAUD, alamat PAUD dan tahun pengajuan .
b. Proposal
c. struktur organigram kepengurusan PAUD
d. daftar calon anak-anak PAUD
e. surat ijin dari kepala desa
f. doto-foto calon peserta PAUD
g.foto-foto lokasi tempat penyelenggaraan PAUD
h. foto copy ijasah para pengajarnya
berikut ini adalah contoh Proposalnya :
PROPOSAL
I. PENDAHULUAN
Paud adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan Dasar yang merupakan upaya pembinaan yang di tujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut yang diselenggarakan pada jalur formal non formal dan informal.
Paud menyiapkan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan Fisik ( Koordinasi motorik halus dan kasar ), Sosio emosional ( Sikap perilaku serta agama ), bahasa dan komunikasi sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh Anak Usia Dini.
Ada dua tujuan diselenggarakan Paud yaitu :
- Tujuan Utama : untuk membentuk anak Indonesia yang berkwalitas yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal didalam memasuki pendidikan dasar serta mempunyai kehidupan dimasa yang akan datang.
- Tujuan Penyerta : untuk menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar ( akademik ) di sekolah.
Rentangan anak usia dini menurut pasal 28 Undang-Undang SISDIKNAS No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun, sementara menurut kajian rumpun keilmuan Paud dan penyelenggaraannya di beberapa negara PAUD dilaksanakan sejak 0-8 tahun.
Ruang lingkup PAUD
- Infant ( 0-1 tahun )
- Toddler ( 2-3 tahun )
- Pre school/Kindergarten Children ( 3-6 tahun )
- Early Primary School ( SD kelas awal 6-8 tahun )
Bertitik tolak dari pemikiran diatas maka masyarakat bekerjasama dengan pemerintah Desa Raja Jempol Kecamatan Jempoler dan berdasarkan musyawarah yang diselenggarakan pada hari Jum’at tanggal 6 bulan Mei tahun 2013, bermaksud membentuk suatu program peningkatan kwalitas pendidikan anak-anak sedini mungkin melalui pendirian Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) dan lembaga tersebut kami beri nama PENDIDIKAN ANAK USIA DINI KELOMPOK BERMAIN ( PAUD ) Jempol Oke Desa Raja Jempol Kecamatan Jempoler Kabupaten Jempol.
II. Tujuan yang ingin dicapai melalui program ini adalah :
• Menyediakan layanan pendidikan yang murah dan bermutu bagi anak usia 0 s.d 6 tahun
• Mengoptimalkan pertumbuhan dan pekembangan anak usia 0 s.d. 6 tahun
III. Sasaran program
Sasaran program ini adalah anak usia 0-6 tahun, sebanyak 23 anak.
IV. Waktu dan tempat pelaksanaan
a. Waktu
Waktu pelaksanaan Kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini Kelompok Bermain Jempol Oke dimulai dari hari Senin jam 07.30 – 10.00 BBWI sampai dengan hari Kamis, adapun jadwal waktu pelaksanaan sebagai berikut :[buat tabel rinciannya]
b. Tempat pelaksanaan kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini kelompok bermain PENDIDIKAN ANAK USIA DINI KELOMPOK BERMAIN ( PAUD ) Jempol Oke Desa Raja Jempol Kecamatan Jempoler Kabupaten Jempol.
c. DATA TENAGA PENDIDIK dan PESERTA DIDIK.
Tenaga pendidik dan peserta didik yang ada pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini sebanyak 4 (empat) orang dan peserta didik sebanyak 24 orang dengan rincian sebagai berikut :[buat tabel rinciannya struktur organigramnya]
V. Daya Dukung
Guna mendukung penyelenggaraan rintisan program Kelompok Bermain Pos PAUD* dimaksud, sarana dan prasarana yang terseduia adalah sebagai berikut :
a. Sarana dan Prasarana
No Jenis Sarana/Prasarana Jumlah Keadaan
1. Gedung 1 buah Baik
2. Meja 10 buah Baik
3. Kursi 20 buah Baik
4. Alat Permainan Edukatif 10 buah Baik
b. Tindak Lanjut
Agar program pelaksanaan dapat berjalan secara berkesinambungan langkah yang dilakukan adalah dengan cara mengadakan pelatihan dan penambahan fasilitas pelayanan kepada peserta didik pada umumnya dan masyarakat desa Raja Jempol pada umumnya.
VI. PENUTUP
Demikianlah sebagian keinginan masyarakat yang coba kami salurkan, mudah-mudahan dengan partisipasi dari semua elemen masyarakat akan tercipta suatu kerjasama yang menghasilkan sebuah peningkatan pendidikan di Desa Raja Jempol Kecamatan Jempoler Kabupaten Sidoarjo Propinsi Jawa Timur khususnya dan umumnya akan menyumbangkan keberhasilan bagi negara kita tercinta amin.